THE STORY OF THE LOOM
Cerita di balik Loombastic Studio.
Tamat dari jurusan kriya tekstil seni rupa IKJ (Institut Kesenia Jakarta) aku malah berpaling ke dunia musik. Sibuk urusan musik baik itu event, komunitas dan lainnya. Setelah lebih dari 20 tahun di dunia musik, akhirnya pandemi Covid 19 seakan memanggil lu untuk kembali ke fitrah ku yaitu di dunia tekstil dan fiber art. Tepat di tanggal 20 Mei 2020 yaitu saat pandemi Covid19 dan terlockdown total aku aku memulai kembali bermain-main dengan benang, serat, kain dan lainnya. Saat itu modal ku hanya benang-benang yang ku koleksi sejak lama sekali. sengaja aku simpan karena aku sayang memakainya terlebih tekstur benangnya unik-unik. Ya, benang-benang itu merupakan pemberian beberapa teman yang notabene bukan orang Indonesia. Benang-benang yang jumlahnya sangat banyak itu memang import semua dan susah didapat di sini. Selain benang, modal lainnya adalah potongan kardus bekas dan lembaran impra board sisa prakarya anak ku yang kemudian aku sulap jadi weaving frame sederhana.
Bisa diartikan modal utama ku hanya lah KETERBATASAN. Yup. Keterbatasan akan peralatan, material lainnya dan juga dana karena terpat di saat itu Suami ku turun jabatan dari Kaprodi (Kepala Program Studi) menjadi Dosen biasa.
Pelan-pelan aku memulai segalanya sambil belajar lagi dari NOL. Mengingat-ingat materi zaman aku kuliah, belajar dari banyak literatur, mengandalkan intuisi, research dll yang semuanya kupelajari secara mendetail sekaligus mempraktekkannya dengan berbagai trial and error.
Proses trial and error sangat penting bagi ku. tanpa itu aku tidak bisa menciptakan “Solving Problem” atas semua kegiatan ku di dunia Textile & Fiber Arts. Kegagalan dalam membuat sesuatu justru membangkitkan rasa penasaran ku yang amat kuat. Dan aku tidak pernah lelah untuk terus mencobanya kembali dengan berbagai macam cara.
Dan Alhamdulillah, karena kegigihan ku akhirnya aku bisa membangun studio teksti ku sendiri dengan peralatan yang bisa dibilang lumayan lengkap dan bisa jadi malah satu-satunya studio tekstil terlengkap di Jakarta untuk saat ini. Oh iya, 90% peralatan yang ada di studio ku adalah hasil design rancang bangun ku sendiri. Mulai dari 6 jenis alat tenun, 3 type spinning wheel (alat pemintal benang), bingkai-bingkai weaving, beberapa jenis drop spindle dan alat-alat lainnya. Alasan ku mendisain alat-alat tersebut karena aku susah menemukannya di Indonesia atau bahkan memang tidak ada yang jual. Pengadaan alat-alat ini adalah salah 1 bukti nyata Solving Problem ku dalam berkarya.
So, pembaca BLOG ku yang budiman, jangan merasa terbatat. jangan jadikan keterbatasan kita sebagai hambatan. Rubah pola pikir mu. Keterbatasan dan kekurangan yang ada di diri kita itu sebetulnya adalah kelebihan kita yang tersamarkan. Dan baru akan muncul ketika kita benar-benar menggali dan memahaminya. Lewat keterbatasan dan kekurangan, seakan kita diajak untuk berfikir dan lebih kreatif. Dan jauhkan rasa takut akan kegagalan. Rubahlah rasa takut sebelum menjadi ketakutan…
Semangat berkarya dan believe in yourself.
MENGGELUTI DUNIA TEKSTIL DAN FIBER ART
Cerita di balik Loombastic Studio.
Tamat dari jurusan kriya tekstil seni rupa IKJ (Institut Kesenia Jakarta) aku malah berpaling ke dunia musik. Sibuk urusan musik baik itu event, komunitas dan lainnya. Setelah lebih dari 20 tahun di dunia musik, akhirnya pandemi Covid 19 seakan memanggil lu untuk kembali ke fitrah ku yaitu di dunia tekstil dan fiber art. Tepat di tanggal 20 Mei 2020 yaitu saat pandemi Covid19 dan terlockdown total aku aku memulai kembali bermain-main dengan benang, serat, kain dan lainnya. Saat itu modal ku hanya benang-benang yang ku koleksi sejak lama sekali. sengaja aku simpan karena aku sayang memakainya terlebih tekstur benangnya unik-unik. Ya, benang-benang itu merupakan pemberian beberapa teman yang notabene bukan orang Indonesia. Benang-benang yang jumlahnya sangat banyak itu memang import semua dan susah didapat di sini. Selain benang, modal lainnya adalah potongan kardus bekas dan lembaran impra board sisa prakarya anak ku yang kemudian aku sulap jadi weaving frame sederhana.
Bisa diartikan modal utama ku hanya lah KETERBATASAN. Yup. Keterbatasan akan peralatan, material lainnya dan juga dana karena terpat di saat itu Suami ku turun jabatan dari Kaprodi (Kepala Program Studi) menjadi Dosen biasa.
Pelan-pelan aku memulai segalanya sambil belajar lagi dari NOL. Mengingat-ingat materi zaman aku kuliah, belajar dari banyak literatur, mengandalkan intuisi, research dll yang semuanya kupelajari secara mendetail sekaligus mempraktekkannya dengan berbagai trial and error.
Proses trial and error sangat penting bagi ku. tanpa itu aku tidak bisa menciptakan “Solving Problem” atas semua kegiatan ku di dunia Textile & Fiber Arts. Kegagalan dalam membuat sesuatu justru membangkitkan rasa penasaran ku yang amat kuat. Dan aku tidak pernah lelah untuk terus mencobanya kembali dengan berbagai macam cara.
Dan Alhamdulillah, karena kegigihan ku akhirnya aku bisa membangun studio teksti ku sendiri dengan peralatan yang bisa dibilang lumayan lengkap dan bisa jadi malah satu-satunya studio tekstil terlengkap di Jakarta untuk saat ini. Oh iya, 90% peralatan yang ada di studio ku adalah hasil design rancang bangun ku sendiri. Mulai dari 6 jenis alat tenun, 3 type spinning wheel (alat pemintal benang), bingkai-bingkai weaving, beberapa jenis drop spindle dan alat-alat lainnya. Alasan ku mendisain alat-alat tersebut karena aku susah menemukannya di Indonesia atau bahkan memang tidak ada yang jual. Pengadaan alat-alat ini adalah salah 1 bukti nyata Solving Problem ku dalam berkarya.
So, pembaca BLOG ku yang budiman, jangan merasa terbatat. jangan jadikan keterbatasan kita sebagai hambatan. Rubah pola pikir mu. Keterbatasan dan kekurangan yang ada di diri kita itu sebetulnya adalah kelebihan kita yang tersamarkan. Dan baru akan muncul ketika kita benar-benar menggali dan memahaminya. Lewat keterbatasan dan kekurangan, seakan kita diajak untuk berfikir dan lebih kreatif. Dan jauhkan rasa takut akan kegagalan. Rubahlah rasa takut sebelum menjadi ketakutan…
Semangat berkarya dan believe in yourself.
BERKARYA SEBAGAI TERAPI
Menjadi seorang Cancer Survivor itu sangat berat. Segala macam emosi bercampur aduk jadi satu dan belum lagi perubahan mental yang pasti ada.
Sejak 2018 rahim ku sudak tidak ada lagi. Ketika terdiagnosa Cancer stadium satu, saat itu juga aku putuskan dan minta dokter untuk angkat rahim. Aku tidak mau menderita berlama-lama. Ada baynak hal yang harus aku jalankan dan anak ku masih kecil-kecil saat itu, mereka masih membutuhkan aku.
Singkat cerita, setelah menjalani berbagai macam terapi termasuk chemo, aku masih tetap berkegiatan seperti biasa. Saat itu aku masih sibuk di dunia musik. Dan ketika kembali ke dunia Textile & Fiber Art (2020), kegiatan berkarya ku jadikan media terapi ku. Mengalihkan rasa sakit dengan berkarya. Setiap hari seperti itu. Karena ketika berkarya, suasana hati damai, happy dan santai. Itu yang membuat rasa sakit melemah. Dan Alhamdulillah, aku masih terus berkarya.
ALAT TENUN PERDANA KU
Teringat masa-nasa kuliah di jurusan tekstil Seni Rupa IKJ. di mana kami memiliki studio tekstil di kampus IKJ. Ada beberapa ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang usianya sudah cukup tua, terlihat dari warna kayunya. Di studio tekstil IKJ itu lah pertama kalinya aku melihat alat tenun dan belajar menggunakannya, meski hanya sekilas demi satu tugas kuliah. Dari tugas itu aku tertarik dengan tenun. Setiap masuk ruangan itu, aku selalu mengelus ATBM itu sambil dalam hati mengucap “Bismillah, semoga someday bisa punya alat tenun”.
Entah bagaimana cara kerja Tuhan, sampai-sampai harus ada pandemi Covid19 dulu untuk aku bisa mewujudkan impian yang lama sekali ku abaikan.
Saat aku kembali ke dunia tekstil dan fiber art tepatnya saat pertengahan pandemi covid, seakan aku diingatkan soal impian ku tentang alat tenun. Akhirnya sambil berkarya dengan alat seadanya, aku mencari banyak informasi jual beli alat tenun di negeri ini. Hasilnya NIHIL. Tidak ada yang mejual. Bahkan setiap hari aku menghubungi banyak pengrajin tenun di berbagai daerah lewat pesan di instagram. Hasilnya tetap nihil. Mereka tidak menjual alat tenun. Bahkan aku tidak bisa membeli alat tenun yang sudah ada karena alasan sudah menjadi trdisi turun temurun dan alat-alat tenun tersebut pun juga turun temurun dari nenek moyang mereka.
Keterbatasan dan hambatan-hambatan tersebut seakan sengaja dihadirkan ke hadapan ku. Mungkin Tuhan bicara “Kenapa harus beli? Memangnya kamu punya uang? Kamu bisa bikin sendiri. Ayo, mulai berfikir!”
Dan akhirnya aku mulai bikin coretan-coretan di kertas gambar, mendisain alat tenun. Disain sederhana atas dasar keterbatasan mencari kelengkapan alat tenun. Mulai dari shaft dll nya. Kaerna sulit menemukan komponen-komponen alat tenun, akhirnya disain ini lah yang aku ciptakan. Sebuah Floor Loom (ATBM) yang mengadopsi alat tenun jenis Rigid Heddle untuk menganti besi-besi shaftnya. Ya, aku harus kreatif berfikir demi mewujudkan mimpi ku.
Dibantu kakak pertama ku akhirnya aku bisa mewujudkan bentuk real disain alat tenin ku. Alhamdulillah memiliki kakak yang hobi perkayuan. Jadi Beliau yang membangun alat tenun pertama ku ini. Alat tenun yang simple, ringan dan bisa dilipat. Cocok bagi yang memili rumah kecil.
BIG FLOR LOOM
Setahun setelah aku membangun alat tenun design pertama ku, akhirnya aku membangun alat tenun design kedua ku. Big Floor Loom dengan 4 shaft. Untuk alat tenun ini kelengkapannya sama seperti alat tenun pada umumnya, terutama dibagian shaftnya. Design ini tanpa pedal. Hanya memakai sistem tarik untuk menaikturunkan shaftnya secara bergantian ketika proses menenun. Kali ini aku tidak dibantu Kakak ku untuk membangun alat tenun ini. Ada satu pengusaha tenun lurik di Jawa yang bersedia membantuku membangun alat tenun ini. Kebetulan Beliau memiliki tukang tersendiri yang biasa memperbaiki atau memperbarui alat-alat tenun di pabriknya. Alhamdulillah memiliki Sahabat sekaligus guru seperti Beliau, meski hanya berkenalan lewat Instagram. Kami sering berkomunikasi via wharsapp. Dan aku bersyukur bisa menjadi langganan Beliau dalam urusan membangun alat tenun.
AKU JATUH CINTA
Yang membuat aku tertarik pada dunia memintal benang adalah ketika aku jatuh cinta pada benang-benang tradisional pintalan tangan yang kudapat dari daerah Tuban dan Solo. Yaitu karena teksturnya yang unik dan tebal tipisnya tidak rata. Kebetulan aku menyukai sesuatu yang rustic dan bertekstur. Dan ketika benang-benang tersebut ditenun atau weaving menjadi lembaran kain maka akan terlihat kecantikan hasil hasil kainnya. Permukaan kain dengan tekstur-tekstur yang tidak merata itu lah yang menambah nilai orisinil atau keasliannya. Dari benang-benang ini lah aku mulai mencari-cari informasi, mempelajari bahkan riset sebelum aku mulai belajar memintalnya.
BELAJAR MEMINTAL
Mulai tertarik pada dunia memintal benang. Mencari berbagai informasi dari banyak sumber dan literatur dan juga bertanya-tanya dengan para ahlinya di luar sana.
Membuat berbagai macam jenis dan bentuk spindle sendiri yang masing-masing demi menunjang kebutuhan belajar ku. Dari perbedaan-perbedaan tersebut, aku akan paham masing-masing perbedaannya, baik proses kerjanya maupun hasil benangnya.
Tepatnya adalah belajar sekaligus riset.
SPINNING WHEEL PERTAMA KU
Ibarat mimpi menjadi kenyataan. Dapat hadiah Spinning Wheel merk Ashford produksi New Zealand type Country Spinner-2 dari Guru benang ku di Dorset England. Hadiah ini diberikan karena Beliau melihat segala kerja keras ku dalam belajar, perjuangan ku, penelitian ku, dan juga melewati banyak test dan tugas-tugas yang Beliau kasih. Jadi bukan sekedar kasih hadiah begitu saja. Dan hadiah ini benar-benar masih baru, bukan bekas pemakaian. Selain Spinning Wheel, Beliau juga mengirimkan banyak sekali macam-macam serat untuk aku pelajari, riset dan juga praktek memintal. Karena masing-masing serat memiliki sifat dan karakter yang beda-beda. Serat yang dikirimkan ada yang natural beruba serat-serat wool asli berbagai jenis domba, serat sutera, sintetis dan lainnya.
Menerima hadiah mewah ini ibarat aku sedang memikul tanggung jawab besar. Tanggung jawabnya berupa ilmu-ilmu yang sudah aku terima, apakah aku bisa menyebarkannya dengan cara yang tepat dan bertanggung jawab. Karena ketika kita menyebarkan informasi atau ilmu yang salah, berarti kita sudah menyesatkan orang lain.
MENDISAIN & MEMPRODUKSI SPINNING WHEEL
Setelah berhasil mengenal dan memintal benang dengan berbagai macam jenis spindle, akhirnya aku mulai mendisain spinning wheel. ada 3 type spinning wheel yang aku desain dan wujudkan bentuk realnya (semua bisa dilihat di instagram ku). Ya, ketika aku terjun pada satu bidang, aku harus total. Dan lagi-lagi karena keterbatasan alat di sini yang akhirnya membuat aku berfikir dan harus kreatif demi menyelesaikan segala permasalahan atau kendala dalam berkarya. Sementara jika harus membeli dari luar negeri harganya sudah pasti mahal sekali. Belum lagi ongkos kirim yang besar karena beratnta, plus pajak-pajak tambahan lainnya. Ketika mulai medisain wheel yang pertama, dalam hati aku berfikir “Kalau bukan aku yang membuatnya, lalu siapa lagi?”
Aku tidak asal medisain begitu saja. Ada banyak riset yang harus aku jalankan, termasuk diskusi dengan banyak yarn artist di luar sana lewat pesan di instagram, berdiskusi dengan beberapa brand ambassador beberapa merk wheel, diskusi dengan guru ku di Inggris, pengamat spinning wheel, dan juga salah satu produsen spinning wheel turun temurun di Islandia. Diskusi tentang masing-masing bagian atau part dari berbagai jenis spinning wheel yang ada di dunia. Diantaranya adalah jenis tension, ratio dll.
Niat ku adalah membangun spinning wheel dengan sebenar-benarnya spinning wheel, baik itu fungsi, cara kerja, pemakaian, dll. Bukan asal-asalan,karena aku gak suka sesuatu yang sifatnya asal. Ada tanggung jawab moral yang aku panggul ketika orang menggunakan hasil rancangan wheel ku.
Sebelum aku memwujudkan bentuk real wheel ku, lebih dulu aku pelajari cara kerja spinning wheel pemberian guru ku, merk Ashford type Country Spiner 2. Setelahnya, baru aku menyempurnakan gambar disain wheel ku.
Alhamdulillah, aku berhasil mewujudkan 3 jenis wheel yang berbeda * Gaynor 3, De Baron’s dan De Sarman’s. Masing-masing nama type tersebut memiliki makna terdalam dalam hidup ku.
MEDIUM FLOOR LOOM
Medium Floor Loom hasil disainku ini memiliki ukuran yang lebih kecil dibanding Floor Loom lainnya. Kuberi tambahan pedal agar lebih memudahkan proses menenunnya.
RIGID HEDDLE LOOM
Setelah mendisain alat tenun jenis Floor Loom, aku berkembang dengan mendisain alat tenun jenis Rigid Heddle. Bentuknya lebih simple dibanding jening Floor Loom. Dengan tambahan kaki yang bisa dicopot pasang sesuai kebutuhan penggunanya.
Dengan disain yang ergonomis, saat terpasang pada kakinya, Rigid Heddle Loom ini bisa dimiringkan sesuai tingkat kenyamanan yang kita butuhkan. ada beberapa ukuran lebar yang aku ciptakan. Dan alat ini pun sudah aku produksi dan banyak peminatnya.
LOOMBASTIC LOOME LOOM
Hampir sama bentuknya seperti Rigid Heddle Loom, Loome ini memiliki ukuran yang lebih kecil, ringan dan tampilan yang menggemaskan. Dengan papan heddle warna neon pink transparant. Tanpa mengabaikan sisi ergonomisnya, aku disain alat ini agar mudah dibawa ke mana-mana dan bisa dipangku juga. Jadi saat traveling pun kita masih bisa menenun. Asik ya?
LOOMBASTIC BOX LOOM
Alat tenun dengan lebar yang lebih kecil ini aku disain sedemikian rupa untuk membuat karya tenun ukuran lebar kecil. Seperti strap, coaster dan lainnya. Karena pada dasarnya jenis Box Loom ini memang selalu digunakan untuk membuat strap.
LOOMBASTIC De SHARMAN’S WHEEL
Selain alat pemintal benang Type De Baron’s dan Gaynor 3, aku juga mendisain Type De Sharman,s ini. Menggunakan satu pedal dan bentuk yang lebih Classic. Aku beri nama De Sharman’s demi untuk mengenang Almarhum Papiku. Karena alat pemintal ini diproduksi bertepatan tanggalnya dengan hari ulang tahun Papi ku.
Dari ketiga type alat pemintal yang aku disain, memiliki fungsi yang berbeda-beda dilihat dari hasil benangnya.
LOOMBASTIC
CUTE E-SPINNER
Sejak kecil aku menyukai LEGO. Khususnya LEGO TECHNIC dengan motorik elektrik dibanding LEGO type lainnya untuk anak perempuan. Gak jarang aku mengikuti banyak lomba LEGO dan Alhamdulillah selalu menang di posisi JUARA I.
Dibimbing Kakak ku yang juga pecinta LEGO untuk mencoba banyak metode baru dan juga disain LEGO baru yang belum pernah dikeluarkan oleh perusahaan LEGOnya sendiri.
Ternyata kecintaanku terhadap LEGO membantu intuisiku dan melengkapi hobi ku. Salah satunya adalah LOOMBASTIC CUTE E-SPINNER ini. Alat pemintal benang elektrik yang super cute dan ringan. Sebelum aku wujudkan bentuk realnya ini, aku mencobanya lebih dahulu dengan LEGO. Mulai dari merakit body spinner sampai ke bagian bobbinnya. Setelah sempurna, baru aku jadikan MOCnya atau prototypenya dengan 3D Print seperti hasil di foto ini.
Alat ini bisa berputar dengan bantuan dinamo dan aku tambahkan tombol pengatur kecepatan putar bobbinnya.
DUNIAKU PENUH DENGAN BERMAIN
Ya, aku hobi bermain. Segala hobi aku coba. Dan alat-alat kerja yang aku disain di atas adalah bukti dari hobi bermainku.
Kadang aku bingung dengan diriku sendiri. Aku benci matematika. Pokoknya selalu ribet dengan yang namanya angka dan berhitung. Sementara kesemua alat itu didisain dengan matematis sekali. Ada hitungan matematikanya, terlebih alat-alat pemintal benangku. Ada hitungan RATIO yang tidak boleh diabaikan. Karena jika salah perhitungan maka bobbin tidak akan mau berputar alias alatnya tidak bisa difungsikan. Namun entah keajaiban apa yang kuterima, semua alat-alat hasil disainku berfungsi dengan sebenar-benarnya. Aku tidak punya team disain. Semua aku kerjakan sendiri karena aku memang belum mampu membayar tenaga disain. Mahal sekali bayarannya. Aku hanya punya team produksi, seorang tukang kayu yang sangat mengerti apa yang aku mau. Aku belum pernah datang ke bengkelnya yang berlokasi di Bandung dan Solo. Semua pembicaraan, perjanjian dll hanya via WA. Lalu setelahnya Beliau antar produkku ke studio ku.
Sungguh sesuatu yang mebingungkan namun hasilnya ajaib.. Hahahaha….

